BAB I
( Pendahuluan )
A.
Latar Belakang
Pembahasan makalah ini berhubungan dengan
bagaimana manusia menjalani kehidupannya menjadi manusia yang Rabbani dengan
adanya beberapa kemajuan di dunia ini pula. Salah satu di antara kemajuan
tersebut adalah kemajuan budaya manusia yang begitu signifikan yang
kemungkinannya akan terus berlanjut.
Kami ingin membahas dan meneliti apakah kita
dalam proses menjadi manusia rabbani bisa bersinergi dalam perkembangan budaya
atau malah kita harus memegang teguh budaya lama dan menganggap perkembangan
budaya manusia yang sekarang ini tidak lebih sekedar penghambat atau virus.
Maka dari itu kami ingin membahas bagaimana perkembangan budaya ini bisa
membantu manusia dalam membentuk jiwa rabbaninya, sehingga kita tidak menyelewengkan
perkembangan budaya manusia ini dan membuat kita semakin jauh dikatakan sebagai
manusia rabbani.
B.
Permasalahan
Dalam makalah ini kita memiliki 2 permasalahan
:
1. Penganggapan agama hanya sebagai simbol.
2. Seringnya perkembangan budaya di anggap sebagai perusak agama.
C. Tujuan
1. Memahami pentingnya dalam beragama menjadi manusia rabbani.
2. Memahami perkembangan budaya sebagai bagian dari hasil makhluk yang
beragama.
D. Manfaat
1. Memehamkan seseorang tentang hakikat dirinya.
2. Memberi sumbangsih dalam pemahaman manusia.
3. Menjadi bahan acuan dalam pendidikan agama.
BAB II
( Pembahasan )
A. Pengertian Manusia Rabbani
Untuk
mengetahui pengertian manusia rabbani terlebih dahulu kita harus mengetahui arti
Manusia dan Rabbani.
1. Manusia
Manusia secara etimologi yakni basyar,
al-Mar’u, al-Insan, al-Nas, dan al-Alam dari
beberapa kata ini sering kita jumpai dalam al-Quran yang artinya adalah
manusia. Jadi, secara terminologi manusia
adalah jelmaan yang berasal dari langit, bumi, lautan, dan daratan.
2. Rabbani
Arti Rabbani secara
etimologi yakni berasal dari kata Rabbun yang artinya tuhan. Jadi, secara
terminologi yaitu yang menyembah tuhan. Dalam kamus mu’jam al-wasit rabbani
sendiri diartikan orang yang sempurna
ilmu dan amalnya.
B. Agama dan Manusia Rabbani
Dalam mengenal diri menjadi manusia rabbani
kita harus mengenal esensi agama karena agama itu sebagai landasan kita
berbicara tentang manusia rabbani.
Agama dalam konsep Islam adalah sebuah kebutuhan
fitri manusia itu sendiri yang di berikan oleh Allah Swt. Dalam lubuk jiwa
manusia, seperti tertera pada firman Allah :
Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan
fitrah itu. (QS Al-Rum [30]: 30)
Imam Ali alaihissam menyatakan sesuatu
tentang firman Allah di atas bahwa meraka (Para Nabi) diutus untuk memingatkan
manusia kepada perjanjian yang telah diikat oleh fitrah mereka, yang kelak
mereka akan dituntut untuk memenuhinya. Perjanjian itu tidak tercatat di atas
kertas, tidak pula di ucapkan oleh lidah, tetapi terukir dengan pena ciptaan
Allah dipermukaan kalbu dan lubuk fitrah manusia, dan diatas permukaan hati
nurani serta kedalaman perasaan batiniah[1].
Telah kita pahami hubungan manusia dengan
agama adalah kebutuhan fitri manusia. Begitu pula dikatakan dalam buku Imam
Murthada Muthahari bahwa 2 kebutuhan manusia secara fitrah adalah idealisme dan
agama. Yang dimana manusia tidak bisa hidup sehat secara pikirannya bila tidak
memiliki salah satu diantaranya. Bahkan ia tidak dapat memberikan pengabdian
yang bermanfaat kepada manusia dan budaya manusia. Selain itu jika ia tak
memiliki idealisme dan agama maka ia akan asik memikirkan kesejahteraannya
sendiri tanpa mengetahui tugasnya yang berkenaan dengan masalah moral dan
sosial dalam hidup ini[2].
Oleh sebab itulah agama memiliki peran penting
dalam membentuk jiwa manusia dan memberi motivasi untuk mengeluarkan potensi
yang telah diberikan oleh Allah Swt dalam akal manusia. Tidak heran bahwa Imam
Murthada' Muthahari dalam bukunya menyebutkan bahwa agama akan senantiasa
hidup, tak terpadamkan dan tetap berdetak lalu muncul lagi. Bahkan Will Durant,
seorang penulis yang tak percaya pada agama manapun menyatakan "agama
memiliki seratus jiwa, segala sesuatu jika jika telah dibunuh kali pertama itu
pun sudah mati untuk selama lamanya, kecuali agama sekiranya ia seratus kali
dibunuh, ia akan muncul lagi dan kembali hidup setelah itu"[3].
Ini membuktikan bahwa agama memiliki fungsi
yang tetap dan masih terus berlanjut karena dalam suatu terori apabila sesuatu
tidak memiliki fungsi lagi maka ia akan menghilang. Dalam beragama kita
dianjurkan oleh Allah dalam firmanNya untuk menjadi manusia rabbani
.... Hendaklah kamu menjadi orang orang
rabbani (orang yang sempurna dalam ilmu dan takwanya kepada Allah), karena
kalian selalu mengajarkan Alkitab dan juga selalu mempelajarinya. (QS Ali Imran
[2] : 79)
Dalam mengenal agama kita tidak terlepas dari
pemahaman manusia rabbani, yang dimana ia adalah manusia yang sempurna dalam
memahami ilmu-ilmu syari'ah dan bertakwa yang bisa juga dikatakan orang
memiliki keyakinan religius. Perlu diingat bahwa keyakinan religius inilah yang
mengubah manusia menjadi mukmin sejati[4].
Keyakinan inilah yang mengendalikan egoismenya dan mendorong manusia agar
memikirkan perkembangan manusia dan budayanya.
Perlunya menjadi manusia rabbani di dasarkan
pada prinsip kebutuhan fitrah itu sendiri, dalam bukunya Murthada' Muthahari,
seorang penulis sekaligus filosof Rusia, Tolstoy menyebutkan bahwa keyakinan
adalah suatu yang dibutuhkan manusia[5].
Bagaimana tidak mungkin karena seseorang yang tidak memiliki keyakinan dalam
hidupnya pasti hidupnya tidak jelas dan terombang ambing.
C. Kemajuan Budaya dan Pengaruhnya pada Masa
Kini
Berbicara tentang budaya manusia kita tidak
akan terlepas kaitannya dengan ilmu pengetahuan manusia, karena keduanya adalah
proses akal manusia. Kemajuan budaya manusia yang begitu pesat ini bisa
mempengaruhi budaya yang telah ada, bahkan bisa menggantikan budaya itu
sendiri. Dalam menghadapi kemajuan budaya, perlu kita membuat perancanaan masa
depan budaya. Yang sekarang ini telah menjadi problem atau masalah yang
fundamental di setiap negara yang memiliki budaya.
Setiap budaya pasti memiliki kekhasannya
sendiri, maka dari itu kita yang memiliki budaya harus membuat perencanaan
untuk melindungi budaya dari ekspansi, penyebaran dan hegemonik yang berusaha
menggantikan kekhasan budaya tersebut. Ada 2 hal dalam perencanaan budaya masa
depan yakni menjadi pelaku dan pelindung[6].
Menjadi pelaku yang terlibat dalam era baru atau masa depan untuk menjadi
seseorang yang berkontribusi sekaligus menjadi pelindung yang melindungi
kekhasan budaya itu sendiri sehingga tidak terekspansi dengan pembaruan.
Kemajuan budaya juga menjadi sebab kemajuan
peradaban, peradaban yang maju juga mendorong suatu negara untuk maju. Bisa
dikatakan sebagai negara yang maju. Suatu negara dikatakan maju apabila negara
tersebut berkembang ilmu pengetahuaannya, teknologinya dan juga sistem
ekonominya. Semua hal yang mendukung negara maju tersebut adalah hasil dari
nilai-nilai objektifitas kebudayaan[7].
Yang dimana kita bisa mengetahui bahwa kemajuan budaya mempengaruhi kemajuan
negara.
Penagaruh kebudayaan sangat hebat, hingga Imam
Ali Khamenei dalam bukunya menyerukan kepada para pemuda. Ilmu pengetahuan dan
teknologi adalah milik seluruh umat manusia. Semua orang berpengaruh dalam
penyempurnaan peradaban kontemporer[8].
Seruan tersebut dimaksutkan agar semua orang dapat berkontribusi dalam
menyempurnakan peradaban yang sekarang ini terdominasi oleh teknologi dan ilmu
pengetahuan. Yang dimana bila suatu bangsa telah tertinggal oleh kedua hal
tersebut maka terpuruklah bangsa tersebut dengan perubahan zaman. Sehingga
diperlukan pengetahuan akan kedua hal tersebut hingga subuah negara bisa
berdiri tegak dengan kemampuan bangsanya sendiri tanpa terpengaruh oleh budaya
asing.
Pada masa kini, budaya yang berkembang pada
negara-negera berkembang dan miskin adalah budaya Amerika dan budaya Eropa.
Budaya tersebut bermaksut untuk menginvasi dan menghilangkan akar-akar budaya
lokal yang memiliki kekhasannya tersendiri. Sehingga dalam mengatasi problema
tersebut memang diperlukan perencanaan budaya masa depan, seperti yang sudah
dipaparkan tadi. Pengaruh kedua budaya tersebut sangatlah besar, bila budaya
lokal yang memiliki kekhasan yang mengandung kepercayaan, moral, kesenian,
hukum dan adat istiadat terpengaruh dengan budaya lain sehingga hilanglah
budaya lokal tersebut. Maka hilanglah pula jati diri bangsa tersebut. Budaya
yang bisa menjadi bukti bahwa suatu bangsa itu ada, yang menjadi simbol bahwa
bangsa pernah ada.
D.
Hubungan antara Budaya dan Manusia Rabbani
Agama Islam tidak melarang umatnya dalam
mengembangkan potensinya. Begitu pula dalam mengembangkan akalnya dalam kata
lain memikirkan kemajuan budaya dalam hal ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian
maupun hukum. Bahkan agama Islam itu rahmatan lil 'alamin yang membawa manusia
untuk menjadi manusia sempurna dengan kata lain manusia rabbani. Hubungan
antara budaya dan agama adalah bertujuan yang sama yakni menjadikan dunia ini
dunia manusia[9].
Karena ilmu pengetahuan yang menjadi hasil budaya memberikan kepada manusia cahaya
dan kekuatan, agama memberikan cinta, harapan dan kehangatan. Yang kedua hal
tersebut menjadikan manusia hidup dalam kehidupan manusia yang sesungguhnya.
Budaya membawa revolusi lahiriyah (material) sedangkan agama membawa revolusi
batiniyah (spiritual). Yang dengan kedua hal tersebut yakni ilmu pengetahuan
dan keimanan lahirlah manusia rabbani, karena manusia rabbani tidak hanya
membutuhkan keimanan saja yakni budaya juga diperlukan untuk membantunya
menjadi manusia yang berguna bagi umat.
Agama dan manusia juga erat kaitannya, karena
manusia itu sendiri adalah tempat ia memasuki dunia spiritual. Seperti yang
dikatakan Imam Ali bin Musa Al-Ridho "yang disana diketahui melalui yang
ada disini"[10].
Dengan mengenal diri sendiri tentunya dengan pengetahuan dan keimanannya ia
akan mengetahui alam semesta itu sendiri. Karena manusia adalah jagad kecil
"mikro-kosmos" yang menjadi cerminan dari jagad raya "makro-kosmos"
yang meliputi seluruh alam semesta[11].
Manusia rabbani membutuhkan ilmu pengetahuan hasil dari budaya untuk mengetahui
diri sendiri, esensi dari dari suatu kejadian yang ada di dunia ini. Untuk
mengetahui dan menelisik seberapa jauh ia bisa memahami dirinya. Karena
mengenal diri berarti mengenal Rabb. Setelah mengenal Rabbnya maka ia akan
sepenuhnya menjadi manusia rabbani.
Bahkan menurut Prof. Nurcholish Majid ilmu
pengetahuan, kebudayaan dan peradaban di lambangkan sebagai "tiga
serangkai" dalam kehidupan manusia[12].
Dan semua itu berdasarkan tindakan manusia, kebutuhan hidup mendorong manusia
untuk melakukan suatu tindakan. Menurut Ashley Montagu, kebudayaan mencerminkan
tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya. Teknologi sebagai bentuk
peradaban adalah implementasi dari ilmu pengetahuan yang menyatu dengan
kebudayaan bangsa dan akhirnya menghasilkannya. Teknologi merupakan penjelmaan
dari kebudayaan suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan
yang menciptakannya. Begitu pula dengan makhuk yang beragama dapat menciptakan
teknologi sendiri yang menunjang ia dapat menjalankan amal ibadahnya dengan
mudah.
Dalam pidatonya Imam Ali Khamenei, ia
menyebutkan bahwa Bangsa Iran sudah memiliki kesiapan ilmu dan kekayaan
material yang cukup melimpah, disamping itu pula Bangsa Iran memiliki akar ilmu
pengetahuan dan budaya yang kuat. Tetapi ada yang lebih penting dari pada itu
semua yakni keimanan, keislaman dan ketakwaan kepada Allah Swt[13].
Dari perkataan Imam Khamenei ini kita merasakan hubungan kebudayaan dan manusia
rabbani begitu erat. Karena unsur keyakinan tersebut dapat menuntun ilmu
pengetahuan dan budaya ke jalan penuh manfaat dan berkah.
BAB III
(Penutup)
Kesimpulan
Dari berbagai pemaparan materi yang telah kita
ungkapakan bisa mengetahui bagaimana agama bukan hanya simbol yang bagi orang
yang lahir dari pasangan yang beragama islam. Tetapi disini agama berperan
penting dalam kehidupan manusia, tidak hanya menjadi sebuah kefitraan manusia
tetapi juga menjadi kebutuhan manusia. Tanpanya manusia tidak memiliki
keinginan untuk memikirkan dirinya sebagai bagian dari sebuah masyarakat. Yang
tidak mau berfikir untuk menjadikan dunia ini lebih baik.
Dalam perkembangan budaya, masyarakat yang
berkeyakinan dan memiliki budaya sendiri tidak harus menghindar dari arus
perkembangan tersebut. Untuk memajukan bangsa agar tidak tertindas kita harus
bisa mengambil langkah untuk ikut berkontribusi di dalamnya tetapi juga kita
bisa menyelamatkan budaya sendiri. Karena kita tahu bahwa tujuan budaya dan
agama adalah sama menjadikan dunia ini dunia manusia.
Daftar Pustaka
Abed Al-Jabiri, Mohamed, Problem Peradaban,
Yogyakarta: Belukar, 2004.
Ali Khamenei, Imam, Perang Kebudayaan,
Jakarta: Cahaya, 2005.
Bakker SJ, J.W.M, Filsafat Kebudayaan,
Yogyakarta: Kanisius, 2003.
Muthahari, Murtadha, Manusia dan Agama,
Bandung: Mizan Pustaka, 2007.
..................................., Manusia
dan Alam Semesta, jakarta: PT Lentera Basritama, 2002.
..................................., Manusia
Sempurna, Jakarta: PT Lentera Basritama, 2001.
...................................., Tafsir
Holistik, Jakarta: PT Citra Aditya Bakti, 2002.
Prof. Dr. H. Jalaluddin, Filsafat Ilmu
Pengetahuan, Jakarta: PT RajaGrafindo Pustaka, 2013.
Prof. Dr. Majid, Nurcholish, Masyarakat
Religius, Jakarta: Paramadina, 2004.
[1] Murtadha Muthahari, manusia dan
agama (Bandung: Mizan Pustaka, cet.II 2007). 51-52
[2] Murtadha Muthahari, Tafsir Holistik: Kajian Seputar Relasi Tuhan, Manusia
dan Alam (Jakarta: PT Citra Aditya Bakti, cet. I, 2002). 27
[4] Murtadha Muthahari, Man and Universe: Manusia dan Alam Semesta,
diterjemahkan oleh Ilyas Hasan (Jakarta: PT Lentera Basritama, cet. I, 2002).
20
[5] Murtadha Muthahari, Man and Universe: Manusia dan Alam Semesta, diterjemahkan
oleh Ilyas Hasan (Jakarta: PT Lentera Basritama, cet. I 2002). 23
[6] Mohamed Abed Al-Jabiri, Problem Peradaban: Penelusuran atas Jejak
Kebudayaan Arab, Islam dan Timur, penerjemah Sunarwoto Dema dan Mosiri
(Yogyakarta: Belukar, cet I 2004). 44
[8] Imam Ali Khamenei, Al-Ghazwu Ats-Tsaqafi: Al-Muqaddimat wa Al-Khaifiyyah
At-Tarikhiyyah: Perang Kebudayaan, diterjemahkan oleh Tholib Anis (Jakarta:
Cahaya, cet. I, 2005). 78
[9] Murtadha Muthahari, Man and Universe: Manusia dan Alam Semesta,
diterjemahkan oleh Ilyas Hasan (Jakarta: PT Lentera Basritama, cet. I 2002). 13
[10] Murtadha Muthahari, Perfect Man: Manusia Sempurna, diterjemahkan oleh M.
Hashem (Jakarta: PT Lentera Basritama, edisi revisi cet. I, 2001). 48
[12] Prof. Dr. H. Jalaluddin, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, cet. I, 2013). 200
[13] Imam Ali Khamenei, Al-Ghazwu Ats-Tsaqafi: Al-Muqaddimat wa Al-Khaifiyyah
At-Tarikhiyyah: Perang Kebudayaan, diterjemahkan oleh Tholib Anis (Jakarta:
Cahaya, cet. I, 2005). 61
Tidak ada komentar:
Posting Komentar