Wellcome

Sugeng Rawuh neng Blog Kulo

Minggu, 20 Desember 2015

Manusia Rabbani Membentuk Peradaban

BAB I
( Pendahuluan )

A.  Latar Belakang
Pembahasan makalah ini berhubungan dengan bagaimana manusia menjalani kehidupannya menjadi manusia yang Rabbani dengan adanya beberapa kemajuan di dunia ini pula. Salah satu di antara kemajuan tersebut adalah kemajuan budaya manusia yang begitu signifikan yang kemungkinannya akan terus berlanjut.
Kami ingin membahas dan meneliti apakah kita dalam proses menjadi manusia rabbani bisa bersinergi dalam perkembangan budaya atau malah kita harus memegang teguh budaya lama dan menganggap perkembangan budaya manusia yang sekarang ini tidak lebih sekedar penghambat atau virus. Maka dari itu kami ingin membahas bagaimana perkembangan budaya ini bisa membantu manusia dalam membentuk jiwa rabbaninya, sehingga kita tidak menyelewengkan perkembangan budaya manusia ini dan membuat kita semakin jauh dikatakan sebagai manusia rabbani.

B.  Permasalahan
Dalam makalah ini kita memiliki 2 permasalahan :
1.      Penganggapan agama hanya sebagai simbol.
2.      Seringnya perkembangan budaya di anggap sebagai perusak agama.


C.  Tujuan
1.      Memahami pentingnya dalam beragama menjadi manusia rabbani.
2.      Memahami perkembangan budaya sebagai bagian dari hasil makhluk yang beragama.
D.  Manfaat
1.      Memehamkan seseorang tentang hakikat dirinya.
2.      Memberi sumbangsih dalam pemahaman manusia.
3.      Menjadi bahan acuan dalam pendidikan agama.






















BAB II
( Pembahasan )

A. Pengertian Manusia Rabbani
            Untuk mengetahui pengertian manusia rabbani terlebih dahulu kita harus mengetahui arti Manusia dan Rabbani.
1.       Manusia
 Manusia secara etimologi yakni basyar, al-Mar’u, al-Insan, al-Nas, dan  al-Alam dari beberapa kata ini sering kita jumpai dalam al-Quran yang artinya adalah manusia. Jadi, secara terminologi manusia adalah jelmaan yang berasal dari langit, bumi, lautan, dan daratan.
2.       Rabbani
Arti Rabbani secara etimologi yakni berasal dari kata Rabbun yang artinya tuhan. Jadi, secara terminologi yaitu yang menyembah tuhan. Dalam kamus mu’jam al-wasit rabbani sendiri diartikan  orang yang sempurna ilmu dan amalnya.
B. Agama dan Manusia Rabbani
Dalam mengenal diri menjadi manusia rabbani kita harus mengenal esensi agama karena agama itu sebagai landasan kita berbicara tentang manusia rabbani.
Agama dalam konsep Islam adalah sebuah kebutuhan fitri manusia itu sendiri yang di berikan oleh Allah Swt. Dalam lubuk jiwa manusia, seperti tertera pada firman Allah :
Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah itu. (QS Al-Rum [30]: 30)
Imam Ali alaihissam menyatakan sesuatu tentang firman Allah di atas bahwa meraka (Para Nabi) diutus untuk memingatkan manusia kepada perjanjian yang telah diikat oleh fitrah mereka, yang kelak mereka akan dituntut untuk memenuhinya. Perjanjian itu tidak tercatat di atas kertas, tidak pula di ucapkan oleh lidah, tetapi terukir dengan pena ciptaan Allah dipermukaan kalbu dan lubuk fitrah manusia, dan diatas permukaan hati nurani serta kedalaman perasaan batiniah[1].
Telah kita pahami hubungan manusia dengan agama adalah kebutuhan fitri manusia. Begitu pula dikatakan dalam buku Imam Murthada Muthahari bahwa 2 kebutuhan manusia secara fitrah adalah idealisme dan agama. Yang dimana manusia tidak bisa hidup sehat secara pikirannya bila tidak memiliki salah satu diantaranya. Bahkan ia tidak dapat memberikan pengabdian yang bermanfaat kepada manusia dan budaya manusia. Selain itu jika ia tak memiliki idealisme dan agama maka ia akan asik memikirkan kesejahteraannya sendiri tanpa mengetahui tugasnya yang berkenaan dengan masalah moral dan sosial dalam hidup ini[2].
Oleh sebab itulah agama memiliki peran penting dalam membentuk jiwa manusia dan memberi motivasi untuk mengeluarkan potensi yang telah diberikan oleh Allah Swt dalam akal manusia. Tidak heran bahwa Imam Murthada' Muthahari dalam bukunya menyebutkan bahwa agama akan senantiasa hidup, tak terpadamkan dan tetap berdetak lalu muncul lagi. Bahkan Will Durant, seorang penulis yang tak percaya pada agama manapun menyatakan "agama memiliki seratus jiwa, segala sesuatu jika jika telah dibunuh kali pertama itu pun sudah mati untuk selama lamanya, kecuali agama sekiranya ia seratus kali dibunuh, ia akan muncul lagi dan kembali hidup setelah itu"[3].
Ini membuktikan bahwa agama memiliki fungsi yang tetap dan masih terus berlanjut karena dalam suatu terori apabila sesuatu tidak memiliki fungsi lagi maka ia akan menghilang. Dalam beragama kita dianjurkan oleh Allah dalam firmanNya untuk menjadi manusia rabbani
.... Hendaklah kamu menjadi orang orang rabbani (orang yang sempurna dalam ilmu dan takwanya kepada Allah), karena kalian selalu mengajarkan Alkitab dan juga selalu mempelajarinya. (QS Ali Imran [2] : 79)
Dalam mengenal agama kita tidak terlepas dari pemahaman manusia rabbani, yang dimana ia adalah manusia yang sempurna dalam memahami ilmu-ilmu syari'ah dan bertakwa yang bisa juga dikatakan orang memiliki keyakinan religius. Perlu diingat bahwa keyakinan religius inilah yang mengubah manusia menjadi mukmin sejati[4]. Keyakinan inilah yang mengendalikan egoismenya dan mendorong manusia agar memikirkan perkembangan manusia dan budayanya.
Perlunya menjadi manusia rabbani di dasarkan pada prinsip kebutuhan fitrah itu sendiri, dalam bukunya Murthada' Muthahari, seorang penulis sekaligus filosof Rusia, Tolstoy menyebutkan bahwa keyakinan adalah suatu yang dibutuhkan manusia[5]. Bagaimana tidak mungkin karena seseorang yang tidak memiliki keyakinan dalam hidupnya pasti hidupnya tidak jelas dan terombang ambing.

C. Kemajuan Budaya dan Pengaruhnya pada Masa Kini
Berbicara tentang budaya manusia kita tidak akan terlepas kaitannya dengan ilmu pengetahuan manusia, karena keduanya adalah proses akal manusia. Kemajuan budaya manusia yang begitu pesat ini bisa mempengaruhi budaya yang telah ada, bahkan bisa menggantikan budaya itu sendiri. Dalam menghadapi kemajuan budaya, perlu kita membuat perancanaan masa depan budaya. Yang sekarang ini telah menjadi problem atau masalah yang fundamental di setiap negara yang memiliki budaya.
Setiap budaya pasti memiliki kekhasannya sendiri, maka dari itu kita yang memiliki budaya harus membuat perencanaan untuk melindungi budaya dari ekspansi, penyebaran dan hegemonik yang berusaha menggantikan kekhasan budaya tersebut. Ada 2 hal dalam perencanaan budaya masa depan yakni menjadi pelaku dan pelindung[6]. Menjadi pelaku yang terlibat dalam era baru atau masa depan untuk menjadi seseorang yang berkontribusi sekaligus menjadi pelindung yang melindungi kekhasan budaya itu sendiri sehingga tidak terekspansi dengan pembaruan.
Kemajuan budaya juga menjadi sebab kemajuan peradaban, peradaban yang maju juga mendorong suatu negara untuk maju. Bisa dikatakan sebagai negara yang maju. Suatu negara dikatakan maju apabila negara tersebut berkembang ilmu pengetahuaannya, teknologinya dan juga sistem ekonominya. Semua hal yang mendukung negara maju tersebut adalah hasil dari nilai-nilai objektifitas kebudayaan[7]. Yang dimana kita bisa mengetahui bahwa kemajuan budaya mempengaruhi kemajuan negara.
Penagaruh kebudayaan sangat hebat, hingga Imam Ali Khamenei dalam bukunya menyerukan kepada para pemuda. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah milik seluruh umat manusia. Semua orang berpengaruh dalam penyempurnaan peradaban kontemporer[8]. Seruan tersebut dimaksutkan agar semua orang dapat berkontribusi dalam menyempurnakan peradaban yang sekarang ini terdominasi oleh teknologi dan ilmu pengetahuan. Yang dimana bila suatu bangsa telah tertinggal oleh kedua hal tersebut maka terpuruklah bangsa tersebut dengan perubahan zaman. Sehingga diperlukan pengetahuan akan kedua hal tersebut hingga subuah negara bisa berdiri tegak dengan kemampuan bangsanya sendiri tanpa terpengaruh oleh budaya asing.
Pada masa kini, budaya yang berkembang pada negara-negera berkembang dan miskin adalah budaya Amerika dan budaya Eropa. Budaya tersebut bermaksut untuk menginvasi dan menghilangkan akar-akar budaya lokal yang memiliki kekhasannya tersendiri. Sehingga dalam mengatasi problema tersebut memang diperlukan perencanaan budaya masa depan, seperti yang sudah dipaparkan tadi. Pengaruh kedua budaya tersebut sangatlah besar, bila budaya lokal yang memiliki kekhasan yang mengandung kepercayaan, moral, kesenian, hukum dan adat istiadat terpengaruh dengan budaya lain sehingga hilanglah budaya lokal tersebut. Maka hilanglah pula jati diri bangsa tersebut. Budaya yang bisa menjadi bukti bahwa suatu bangsa itu ada, yang menjadi simbol bahwa bangsa pernah ada.

D.    Hubungan antara Budaya dan Manusia Rabbani
Agama Islam tidak melarang umatnya dalam mengembangkan potensinya. Begitu pula dalam mengembangkan akalnya dalam kata lain memikirkan kemajuan budaya dalam hal ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian maupun hukum. Bahkan agama Islam itu rahmatan lil 'alamin yang membawa manusia untuk menjadi manusia sempurna dengan kata lain manusia rabbani. Hubungan antara budaya dan agama adalah bertujuan yang sama yakni menjadikan dunia ini dunia manusia[9]. Karena ilmu pengetahuan yang menjadi hasil budaya memberikan kepada manusia cahaya dan kekuatan, agama memberikan cinta, harapan dan kehangatan. Yang kedua hal tersebut menjadikan manusia hidup dalam kehidupan manusia yang sesungguhnya. Budaya membawa revolusi lahiriyah (material) sedangkan agama membawa revolusi batiniyah (spiritual). Yang dengan kedua hal tersebut yakni ilmu pengetahuan dan keimanan lahirlah manusia rabbani, karena manusia rabbani tidak hanya membutuhkan keimanan saja yakni budaya juga diperlukan untuk membantunya menjadi manusia yang berguna bagi umat.
Agama dan manusia juga erat kaitannya, karena manusia itu sendiri adalah tempat ia memasuki dunia spiritual. Seperti yang dikatakan Imam Ali bin Musa Al-Ridho "yang disana diketahui melalui yang ada disini"[10]. Dengan mengenal diri sendiri tentunya dengan pengetahuan dan keimanannya ia akan mengetahui alam semesta itu sendiri. Karena manusia adalah jagad kecil "mikro-kosmos" yang menjadi cerminan dari jagad raya "makro-kosmos" yang meliputi seluruh alam semesta[11]. Manusia rabbani membutuhkan ilmu pengetahuan hasil dari budaya untuk mengetahui diri sendiri, esensi dari dari suatu kejadian yang ada di dunia ini. Untuk mengetahui dan menelisik seberapa jauh ia bisa memahami dirinya. Karena mengenal diri berarti mengenal Rabb. Setelah mengenal Rabbnya maka ia akan sepenuhnya menjadi manusia rabbani.
Bahkan menurut Prof. Nurcholish Majid ilmu pengetahuan, kebudayaan dan peradaban di lambangkan sebagai "tiga serangkai" dalam kehidupan manusia[12]. Dan semua itu berdasarkan tindakan manusia, kebutuhan hidup mendorong manusia untuk melakukan suatu tindakan. Menurut Ashley Montagu, kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya. Teknologi sebagai bentuk peradaban adalah implementasi dari ilmu pengetahuan yang menyatu dengan kebudayaan bangsa dan akhirnya menghasilkannya. Teknologi merupakan penjelmaan dari kebudayaan suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan yang menciptakannya. Begitu pula dengan makhuk yang beragama dapat menciptakan teknologi sendiri yang menunjang ia dapat menjalankan amal ibadahnya dengan mudah.
Dalam pidatonya Imam Ali Khamenei, ia menyebutkan bahwa Bangsa Iran sudah memiliki kesiapan ilmu dan kekayaan material yang cukup melimpah, disamping itu pula Bangsa Iran memiliki akar ilmu pengetahuan dan budaya yang kuat. Tetapi ada yang lebih penting dari pada itu semua yakni keimanan, keislaman dan ketakwaan kepada Allah Swt[13]. Dari perkataan Imam Khamenei ini kita merasakan hubungan kebudayaan dan manusia rabbani begitu erat. Karena unsur keyakinan tersebut dapat menuntun ilmu pengetahuan dan budaya ke jalan penuh manfaat dan berkah.




BAB III
(Penutup)

Kesimpulan
Dari berbagai pemaparan materi yang telah kita ungkapakan bisa mengetahui bagaimana agama bukan hanya simbol yang bagi orang yang lahir dari pasangan yang beragama islam. Tetapi disini agama berperan penting dalam kehidupan manusia, tidak hanya menjadi sebuah kefitraan manusia tetapi juga menjadi kebutuhan manusia. Tanpanya manusia tidak memiliki keinginan untuk memikirkan dirinya sebagai bagian dari sebuah masyarakat. Yang tidak mau berfikir untuk menjadikan dunia ini lebih baik.
Dalam perkembangan budaya, masyarakat yang berkeyakinan dan memiliki budaya sendiri tidak harus menghindar dari arus perkembangan tersebut. Untuk memajukan bangsa agar tidak tertindas kita harus bisa mengambil langkah untuk ikut berkontribusi di dalamnya tetapi juga kita bisa menyelamatkan budaya sendiri. Karena kita tahu bahwa tujuan budaya dan agama adalah sama menjadikan dunia ini dunia manusia.










Daftar Pustaka

Abed Al-Jabiri, Mohamed, Problem Peradaban, Yogyakarta: Belukar, 2004.
Ali Khamenei, Imam, Perang Kebudayaan, Jakarta: Cahaya, 2005.
Bakker SJ, J.W.M, Filsafat Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius, 2003.
Muthahari, Murtadha, Manusia dan Agama, Bandung: Mizan Pustaka, 2007.
..................................., Manusia dan Alam Semesta, jakarta: PT Lentera Basritama, 2002.
..................................., Manusia Sempurna, Jakarta: PT Lentera Basritama, 2001.
...................................., Tafsir Holistik, Jakarta: PT Citra Aditya Bakti, 2002.
Prof. Dr. H. Jalaluddin, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Jakarta: PT RajaGrafindo Pustaka, 2013.
Prof. Dr. Majid, Nurcholish, Masyarakat Religius, Jakarta: Paramadina, 2004.




[1] Murtadha Muthahari, manusia dan agama (Bandung: Mizan Pustaka, cet.II 2007). 51-52
[2] Murtadha Muthahari, Tafsir Holistik: Kajian Seputar Relasi Tuhan, Manusia dan Alam (Jakarta: PT Citra Aditya Bakti, cet. I, 2002). 27
[3] Murtadha Muthahari, manusia dan agama (Bandung: Mizan Pustaka, cet.II 2007). 49
[4] Murtadha Muthahari, Man and Universe: Manusia dan Alam Semesta, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan (Jakarta: PT Lentera Basritama, cet. I, 2002). 20
[5] Murtadha Muthahari, Man and Universe: Manusia dan Alam Semesta, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan (Jakarta: PT Lentera Basritama, cet. I 2002). 23
[6] Mohamed Abed Al-Jabiri, Problem Peradaban: Penelusuran atas Jejak Kebudayaan Arab, Islam dan Timur, penerjemah Sunarwoto Dema dan Mosiri (Yogyakarta: Belukar, cet I 2004). 44
[7] J.W.M. Bakker SJ, Filsafat Kebudayaan (Yogyakarta: Kanisius, Cet. XII, 2003). 38
[8] Imam Ali Khamenei, Al-Ghazwu Ats-Tsaqafi: Al-Muqaddimat wa Al-Khaifiyyah At-Tarikhiyyah: Perang Kebudayaan, diterjemahkan oleh Tholib Anis (Jakarta: Cahaya, cet. I, 2005). 78
[9] Murtadha Muthahari, Man and Universe: Manusia dan Alam Semesta, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan (Jakarta: PT Lentera Basritama, cet. I 2002). 13
[10] Murtadha Muthahari, Perfect Man: Manusia Sempurna, diterjemahkan oleh M. Hashem (Jakarta: PT Lentera Basritama, edisi revisi cet. I, 2001). 48
[11] Prof. Dr. Nurcholish Majid, Masyarakat Religius (Jakarta: Paramadina, cet. III, 2004). 44
[12] Prof. Dr. H. Jalaluddin, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, cet. I, 2013). 200
[13] Imam Ali Khamenei, Al-Ghazwu Ats-Tsaqafi: Al-Muqaddimat wa Al-Khaifiyyah At-Tarikhiyyah: Perang Kebudayaan, diterjemahkan oleh Tholib Anis (Jakarta: Cahaya, cet. I, 2005). 61

Tidak ada komentar:

Posting Komentar