Wellcome

Sugeng Rawuh neng Blog Kulo

Selasa, 15 Desember 2015

Musuh Peradaban: Plagiarisme Pembunuh Potensi Bangsa


“Cara terbaik menangani plagiarisme adalah dengan cara memperbanyak latihan menulis. Seperti yang diketahui menulis karya ilmiah bukanlah hal yang mudah. Perlu adanya penggabungan antara pengetahuan, pengalaman, observasi- interaksi dan juga kemampuan merajut pemikiran dalam kemampuan menulis. Latihan menulis membuat seseorang terbiasa merajut pemikirannya dalam tulisan- tulisannya.” –Rhenald Kasali-
“Fasilatas copy and paste di dalam internet mempermudah seseoarang melakukan plagiarisme. Di dalam internet juga terdapat begitu banyak informasi seperti tanpa adanya pengarang. Inilah yang menjadikan seseorang berfikir semua informasi ini bisa menjadi miliknya. Dampak plagiarisme sangat besar, ia akan menciptakan gemerasi yang malas berfikir. Dan peradaban akan dirugikan akibat tidak ada generasi yang bisa menciptakan kreativitas.” –Ninok Leksono-
Manusia dalam menghadapi tantangan masa kini perlu kekuatan yang lebih. Mengapa demikian, karena kemajuan teknologi pada peradaban kini sangat hebat. Dunia cyber yang kini banyak memberikan informasi, artikel, pengetahuan dan lain sebagainya sangat mudah diakses oleh banyak orang. Dalam pandangan sebagian orang ini adalah dampak positif yang mana akan memberikan kemudahan bagi mereka untuk mencari pengetahuan. Tetapi bagi seorang penulis karya ilmiah, ini adalah dampak negatif. Maraknya plagiarisme pada banyak kasus yang menimpa mahasiswa-mahasiswa di negara ini.
Pada sebuah artikel dikatakan bahwa tindakan plagiarisme merupakan pelanggaran hak cipta. Yang dimana pelakunya menggunakan gagasan, ide dan pikiran orang lain tanpa mengakuinya baik itu sengaja maupun tidak[i]. Kebanyakan mahasiswa melakukan plagiarisme tanpa disengaja. Seperti yang dikatakan oleh Ninok Leksono bahwa informasi di dunia saber dan berlimpah ruah dan seperti tanda ada pengarangnya[ii]. Kurangnya perhatian mahasiswa pada hal- hal yang kecil menimbulkan dampak yang besar yakni plagiarisme. Plagiarisme dicap sebagai hal yang keji karena ia menimbulkankan dampak buruk bagi generasi suatu bangsa.
Plagiarisme akan menjadikan generasi yang malas berfikir. Yang dimana mereka tidak akan bisa berkreasi untuk memajukan peradaban. Ia mematikan potensi suatu bangsa untuk bisa berkembang dan maju. Sungguh ironis di negara ini, banyak kampus yang memperbolehkan mahasiswanya yang plagiat. Dengan anggapan yang terpeting mereka mengerjakan tugas mereka tidak peduli dari mana sumbernya. Niatan boleh baik tetapi apakah mereka tidak sadar telang menghancurkan negara ini.
Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Dr. Dian Indihadi bahwa guru bisa menghindari plagiarisme dalam proses pembelajaran[iii]. Karena guru sebagai contoh murid dalam bertindak sebagaimana yang dicontohkan dosen harus tegas kepada mahasiswanya agar tidak melakukan plagiat. Dengan membimbing mereka dalam proses pembuatan dan penyusunan sebuah makalah. Ini akan menjadi jalan terbaik untuk mengembangkan daya pikir mereka.




[i] Dr. Dian Indihadi, M.Pd, Artikel: Kiat Guru Melakukan Plagiarisme,  dikutip dari http://dianindihadi.blogspot.co.id/2012/03/plagiarisme.html, 18/03/2012.
[ii] Ninok Leksono, Apakah “Copy-and-Paste” Musuh berpikir, Dikutip dari majalah Kompas, 04/08/2010.
[iii] Dr. Dian Indihadi, M.Pd, Artikel: Kiat Guru Melakukan Plagiarisme,  dikutip dari http://dianindihadi.blogspot.co.id/2012/03/plagiarisme.html, 18/03/2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar