“Cara terbaik menangani plagiarisme adalah dengan
cara memperbanyak latihan menulis. Seperti yang diketahui menulis karya ilmiah
bukanlah hal yang mudah. Perlu adanya penggabungan antara pengetahuan,
pengalaman, observasi- interaksi dan juga kemampuan merajut pemikiran dalam
kemampuan menulis. Latihan menulis membuat seseorang terbiasa merajut
pemikirannya dalam tulisan- tulisannya.” –Rhenald Kasali-
“Fasilatas copy
and paste di dalam internet mempermudah seseoarang melakukan plagiarisme.
Di dalam internet juga terdapat begitu banyak informasi seperti tanpa adanya
pengarang. Inilah yang menjadikan seseorang berfikir semua informasi ini bisa
menjadi miliknya. Dampak plagiarisme sangat besar, ia akan menciptakan gemerasi
yang malas berfikir. Dan peradaban akan dirugikan akibat tidak ada generasi
yang bisa menciptakan kreativitas.” –Ninok Leksono-
Manusia dalam menghadapi tantangan masa kini perlu
kekuatan yang lebih. Mengapa demikian, karena kemajuan teknologi pada peradaban
kini sangat hebat. Dunia cyber yang kini banyak memberikan informasi, artikel,
pengetahuan dan lain sebagainya sangat mudah diakses oleh banyak orang. Dalam
pandangan sebagian orang ini adalah dampak positif yang mana akan memberikan
kemudahan bagi mereka untuk mencari pengetahuan. Tetapi bagi seorang penulis
karya ilmiah, ini adalah dampak negatif. Maraknya plagiarisme pada banyak kasus
yang menimpa mahasiswa-mahasiswa di negara ini.
Pada sebuah artikel dikatakan bahwa tindakan
plagiarisme merupakan pelanggaran hak cipta. Yang dimana pelakunya menggunakan
gagasan, ide dan pikiran orang lain tanpa mengakuinya baik itu sengaja maupun
tidak[i].
Kebanyakan mahasiswa melakukan plagiarisme tanpa disengaja. Seperti yang
dikatakan oleh Ninok Leksono bahwa informasi di dunia saber dan berlimpah ruah
dan seperti tanda ada pengarangnya[ii].
Kurangnya perhatian mahasiswa pada hal- hal yang kecil menimbulkan dampak yang
besar yakni plagiarisme. Plagiarisme dicap sebagai hal yang keji karena ia
menimbulkankan dampak buruk bagi generasi suatu bangsa.
Plagiarisme akan menjadikan generasi yang malas
berfikir. Yang dimana mereka tidak akan bisa berkreasi untuk memajukan
peradaban. Ia mematikan potensi suatu bangsa untuk bisa berkembang dan maju.
Sungguh ironis di negara ini, banyak kampus yang memperbolehkan mahasiswanya
yang plagiat. Dengan anggapan yang terpeting mereka mengerjakan tugas mereka
tidak peduli dari mana sumbernya. Niatan boleh baik tetapi apakah mereka tidak
sadar telang menghancurkan negara ini.
Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Dr. Dian
Indihadi bahwa guru bisa menghindari plagiarisme dalam proses pembelajaran[iii].
Karena guru sebagai contoh murid dalam bertindak sebagaimana yang dicontohkan
dosen harus tegas kepada mahasiswanya agar tidak melakukan plagiat. Dengan
membimbing mereka dalam proses pembuatan dan penyusunan sebuah makalah. Ini
akan menjadi jalan terbaik untuk mengembangkan daya pikir mereka.
[i] Dr. Dian Indihadi, M.Pd, Artikel: Kiat Guru Melakukan
Plagiarisme, dikutip dari http://dianindihadi.blogspot.co.id/2012/03/plagiarisme.html,
18/03/2012.
[ii] Ninok Leksono, Apakah “Copy-and-Paste” Musuh berpikir, Dikutip dari
majalah Kompas, 04/08/2010.
[iii] Dr. Dian Indihadi, M.Pd, Artikel: Kiat Guru Melakukan
Plagiarisme, dikutip dari http://dianindihadi.blogspot.co.id/2012/03/plagiarisme.html,
18/03/2012.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar