Menjadi
seorang voluntary tidaklah mudah. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan
seperti rasa takut, jaminan keuangan, kehidupan dan lain sebagainya. Pastinya
pertimbangan- pertimbangan di atas menghinggapi seseorang yang ingin menjadi
pekerja suka rela. Banyak dari mereka –yang ingin menjadi voluntary- mundur
untuk melakukan amal itu dikarenakan pertimbangan tersebut. Tetapi juga
banyak dari mereka bisa menghadapi pertimbangan tersebut dan maju untuk
beramal. Itu dikarenakan keberanian mereka untuk menghadapi perasaan tersebut.
Dalam
artikel tentang volunter tersebut menyebutkan, "Bagaiman kalau kalimat
"tapi" kita balik? "Kak, sebenarnya orangtua saya ingin saya
jadi PNS, tetapi saya sangat ingin mengajar anak-anak jalanan." Dan,
"Kak, saya itu sangat takut gelap, tetapi saya suka berpetualangan dan
mengajar di rimba."" Dalam kalimat 1 dan 2, menjadi kalimat
pembanding dengan kalimat. "Kak, saya suka berpetualang, saya juga ingin
mengajar di rimba, tapi saya takut dengan gelap. Bagaimana, ya?" dan
"Kak, saya sangat ingin mengajar anak-anak jalanan, tapi orangtua saya
ingin saya jadi PNS." Dalam bebarapa kalimat tersebut penulis mencoba
untuk membolak- balikan kata "tapi". Dengan asumsi bahwa kalimat
pertama tersebut bisa lebih mendorang niatan seseorang untuk mencapai apa yang
ia inginkan.
Tetapi
dalam pandangan saya, apa bedanya beberapa kalimat tersebut? Kalimat tersebut
hanya dibolak- balik. Masalah sesungguhnya adalah bagaimana cara menghadapi
"tapi" tersebut. Apakah ia ingin berusaha menghadapinya dengan
keberaniannya atau tidak itu tergantung kepada keputusannya. Keberanian sangat
dibutuhkan untuk memilih dan memutuskan pilihan. Keberanianlah yang akan
menghapus rasa takut gelap dn juga menghadapi keinginan orangtua. Dengan
mengambil keputusan maka ia harus menghadapi segala macam tantangan yang ia
terima. Bukan hanya mengubah persepsi dengan membalik kata saja, tetapi yang
lebih penting adalah cara menghadapinya.
Kemudian
dengan kalimat, "Sekolah tidak ada hubungannya dengan gaji yang kita
terima." Bagaimana penulis bisa berpendapat seperti ini, seseorang
mendapatkan gaji itu tergantung kualitasnya dalam bekerja bukan. Bagaimana
seseorang bisa berkualitas? Pastinya dari hasil pendidikannya. Dengan begitu
sekolah pasti menjadi tolak ukur sesorang mendapat gaji juga. Tetapi semua itu
tergantung kepada pemilik potensi tersebut, bagaimana ia akan menggunakannya.
Sebagai seorang voluntary juga bisa diukur dari kualitas
pembelajarannya. Apakah ia akan bermanfaat bagi masyarakat atau idak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar