Wellcome

Sugeng Rawuh neng Blog Kulo

Selasa, 01 Desember 2015

Volunter Service: Keberanian Menjadi Kunci Penting Menghadapi Tantangan


Menjadi seorang voluntary tidaklah mudah. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan seperti rasa takut, jaminan keuangan, kehidupan dan lain sebagainya. Pastinya pertimbangan- pertimbangan di atas menghinggapi seseorang yang ingin menjadi pekerja suka rela. Banyak dari mereka –yang ingin menjadi voluntary- mundur untuk melakukan amal itu dikarenakan pertimbangan tersebut. Tetapi juga banyak dari mereka bisa menghadapi pertimbangan tersebut dan maju untuk beramal. Itu dikarenakan keberanian mereka untuk menghadapi perasaan tersebut.
Dalam artikel tentang volunter tersebut menyebutkan, "Bagaiman kalau kalimat "tapi" kita balik? "Kak, sebenarnya orangtua saya ingin saya jadi PNS, tetapi saya sangat ingin mengajar anak-anak jalanan." Dan, "Kak, saya itu sangat takut gelap, tetapi saya suka berpetualangan dan mengajar di rimba."" Dalam kalimat 1 dan 2, menjadi kalimat pembanding dengan kalimat. "Kak, saya suka berpetualang, saya juga ingin mengajar di rimba, tapi saya takut dengan gelap. Bagaimana, ya?" dan "Kak, saya sangat ingin mengajar anak-anak jalanan, tapi orangtua saya ingin saya jadi PNS." Dalam bebarapa kalimat tersebut penulis mencoba untuk membolak- balikan kata "tapi". Dengan asumsi bahwa kalimat pertama tersebut bisa lebih mendorang niatan seseorang untuk mencapai apa yang ia inginkan.
Tetapi dalam pandangan saya, apa bedanya beberapa kalimat tersebut? Kalimat tersebut hanya dibolak- balik. Masalah sesungguhnya adalah bagaimana cara menghadapi "tapi" tersebut. Apakah ia ingin berusaha menghadapinya dengan keberaniannya atau tidak itu tergantung kepada keputusannya. Keberanian sangat dibutuhkan untuk memilih dan memutuskan pilihan. Keberanianlah yang akan menghapus rasa takut gelap dn juga menghadapi keinginan orangtua. Dengan mengambil keputusan maka ia harus menghadapi segala macam tantangan yang ia terima. Bukan hanya mengubah persepsi dengan membalik kata saja, tetapi yang lebih penting adalah cara menghadapinya.

Kemudian dengan kalimat, "Sekolah tidak ada hubungannya dengan gaji yang kita terima." Bagaimana penulis bisa berpendapat seperti ini, seseorang mendapatkan gaji itu tergantung kualitasnya dalam bekerja bukan. Bagaimana seseorang bisa berkualitas? Pastinya dari hasil pendidikannya. Dengan begitu sekolah pasti menjadi tolak ukur sesorang mendapat gaji juga. Tetapi semua itu tergantung kepada pemilik potensi tersebut, bagaimana ia akan menggunakannya. Sebagai seorang voluntary juga bisa diukur dari kualitas pembelajarannya. Apakah ia akan bermanfaat bagi masyarakat atau idak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar